Putri transgender Elon Musk jadi wajah kampanye Desigual, tampil dengan robot mirip Optimus

Putri transgender Elon Musk, Vivian Wilson, muncul sebagai wajah kampanye merek Desigual dengan pesan provokatif yang mengusung semangat pembangkangan. Dalam beberapa iklan pendek, Vivian berinteraksi dengan robot humanoid bernama DESI84 yang desainnya mengingatkan pada robot Optimus dari perusahaan sang ayah.

Kehadiran Vivian dalam kampanye berlabel “Born to disobey” (Lahir untuk membangkang) memunculkan pembacaan simbolis, mengingat hubungan renggangnya dengan Elon Musk sejak keluarga itu masa lalu terkait proses transisinya.
Putri Transgender dalam Sorotan
Dalam salah satu klip, terlihat robot DESI84 sedang merapikan rumput, lalu Vivian mengarahkan selang hingga perangkat itu tampak mengalami gangguan dan terjatuh. Ia menyatakan bahwa robot itu dibuat untuk patuh, sementara dirinya bukan. Di video lain, Vivian membawa robot itu dengan tali seperti anjing, memakainya untuk bermain golf, menyeretnya di tanah, dan mengutak-atik kabel-kabelnya sambil menutup dengan pernyataan bahwa beberapa hal memang dibuat untuk diperbaiki.
Gaya visual tersebut menguatkan pesan pemberontakan yang diusung slogan kampanye. Karena kemiripan DESI84 dengan robot yang dikenal terkait perusahaan Elon Musk, pesan iklan itu dibaca banyak pihak sebagai komentar terselubung terhadap hubungan ayah dan anak yang tegang.
Riwayat pribadi dan ketegangan keluarga
Vivian Wilson lahir pada 2004 dari pernikahan Elon Musk dan penulis Justine Wilson. Ia mengubah nama kelahirannya, meninggalkan nama belakang sang ayah, dan menggunakan nama ibunya. Pada 2020, pada usia 16 tahun, Vivian memulai proses transisi gender dengan persetujuan kedua orang tuanya. Namun belakangan Elon Musk menyatakan keberatan publik terhadap keputusan itu, mengklaim bahwa ia sempat “diperdaya” saat menandatangani dokumen yang antara lain mengizinkan penggunaan penunda pubertas.
Dalam sebuah wawancara tahun 2024, Musk lebih jauh menuduh lingkungan sekolah telah “mengontaminasi” anaknya dan menyatakan bahwa nama lahir Vivian, Xavier, “telah mati, dibunuh oleh virus ‘woke'”, serta mengatakan ia bertekad memberantas apa yang disebutnya virus tersebut. Vivian merespons kritik dan pernyataan ayahnya melalui unggahan di Threads, menyatakan bahwa pernyataan tersebut disalahtafsirkan dan menegaskan ceritanya sendiri.
Posisi Vivian hari ini dan karier di dunia mode
Vivian menyebut bahwa ia kini menetap di Tokyo, hidup berbagi rumah bersama teman-teman sekamar, dengan biaya hidup sekitar 1.200 dolar per bulan, dan tidak menerima dukungan finansial dari ayahnya. Dalam beberapa kesempatan publik, ia tidak segan mengkritik perilaku ayahnya, pernah menyebutnya sebagai “bayi besar yang menyedihkan” dan menuduhnya berperilaku narsis, serta mengatakan Elon hanya hadir sekitar 10 persen selama masa kecilnya.
Sisi profesional Vivian bergerak di industri mode. Ia tampil di peragaan selama Fashion Week New York pada September 2025 dan sempat terlibat dalam kampanye untuk merek lingerie Savage X Fenty. Keterlibatannya dalam kampanye Desigual menandai kesinambungan kariernya di ranah fashion dan iklan.
Respon publik dan makna kampanye
Keterlibatan figur publik yang memiliki hubungan keluarga kompleks dalam iklan sering kali menimbulkan interpretasi politik dan sosial. Dalam kasus Vivian, penggunaan robot yang tampak mirip Optimus dan slogan yang mendorong sikap tak patuh membuat kampanye itu terbaca sebagai pernyataan personal sekaligus promosi merek.
Kendati demikian, iklan itu sendiri tidak menyebut nama ayahnya atau mengklaim hubungan langsung antara robot dan perusahaan manapun. Pesan yang disampaikan menekankan otonomi individu dan gagasan perlawanan terhadap kepatuhan mekanis—sebuah narasi yang sejalan dengan citra yang dibangun Vivian pasca-transisi.
Garis besar hubungan dan implikasi
Kisah Vivian dan Elon menunjukkan persinggungan antara kehidupan pribadi selebritas, isu identitas gender, dan penggunaan simbol dalam dunia periklanan. Bagi Vivian, menjadi sosok yang tampil lantang di kampanye semacam ini sekaligus memperkuat posisinya di dunia mode dan kultur pop, sementara ketegangan keluarga tetap menjadi latar yang sulit dipisahkan dari narasi publik tentang dirinya.
Kampanye Desigual dengan Vivian Wilson memicu perbincangan tentang kebebasan berekspresi, konflik keluarga publik, dan bagaimana citra teknologi dipakai sebagai metafora dalam pesan budaya. Bagi publik, iklan itu bukan sekadar promosi produk, melainkan juga bagian dari percakapan yang lebih luas tentang identitas dan otoritas.
